#ASPEK HUKUM EKONOMI (TUGAS 3)
Bentuk-Bentuk
Perusahaan
Faktor-faktor
pemilihan bentuk-bentuk perusahaan didasarkan pada :
1.
Jenis usaha yang akan dilaksanakan
(jasa,industri,perdagangan)
2.
Rencana Pembagian laba
3.
Jumlah modal yang dibutuhkan/tersedia
4.
Volume produksi
5.
Penentuan tanggung jawab terhadap modal bila
mengalami kerugian
6.
Prinsip-prinsip pengawasan
7.
Besar kecilnya resiko yang dihadapi pemilik
modal
8.
Kelangsungan hidup perusahaan
9.
Jangka waktu berdirinya perusahaan.
Bentuk-bentuk
perusahaan di Indonesia adalah :
·
CV - Commanditaire Vennootschap– limited
partnership
·
FA –
Firma
·
Koperasi - Co-operative
·
Maatschap - Limited liability company
·
PK - Persekutuan Komanditer - limited
partnership
·
PMA – Penenaman Modal Asing – foreign joint
venture company
·
PMDN – Penanaman Modal Dalam Negeri – domestic
capital investment company
·
Persekutuan Pedata - professional partnership
·
Perusahaan Umum (Perum) - state-owned company
·
Perusahaan Jawatan (Perjan) - state-owned
company
·
PT – Perseroan Terbuka – limited liability
company
·
P.T. Tbk. - Perseroan Terbatas, Terbuka – Stock
limited company
·
UD - Usaha Dagang - Sole proprietorship
·
Yayasan - Foundation
1. Bentuk
Perusahaan Berbadan Hukum
Keberadaan badan usaha yang berbadan hukum dalam suatu
perusahaan baik perusahaan kecil,menengah atau besar akan melindungi perusahaan
dari segala tuntutan akibat aktivitas yang dijalankan oleh perusahaan tersebut.
Badan Usaha Yang Berbadan Hukum adalah, bahwa :
Subjek hukumnya
adalah badan usaha itu sendiri, karena ia telah menjadi badan hukum yang juga
termasuk subyek hukum di samping manusia.
Harta kekayaa
perusahaan terpisah dari harta kekayaan pribadi para pengurus/anggotanya.
Akibatnya kalau perusahaannya pailit, yang terkena sita hanyalah harta
perusahaan saja (harta pribadi pengurus /anggotanya tetap bebas dari sitaan)
Karakteristik suatu badan hukum yaitu terdapat pemisahan
kekayaan pemilik dengan kekayaan badan usaha, sehingga pemilik hanya
bertanggung jawab sebatas harta yang dimilikinya.
Badan Usaha
yang berbentuk Badan Hukum terdiri dari :
Perseroan Terbatas (“PT”)
Memiliki ketentuan minimal modal dasar, dalam UU 40/2007
minimum modal dasar PT yaitu Rp50.000.000 (lima puluh juta rupiah). Minimal 25%
dari modal dasar telah disetorkan ke dalam PT;
Pemegang Saham hanya bertanggung jawab sebatas saham yang
dimilikinya;
Berdasarkan peraturan perundang-undangan tertentu diwajibkan
agar suatu badan usaha berbentuk PT. Perusahaan Negara
"Perusahaan Negara adalah perusahaan yang modalnya
sebagian atau seluruhnya merupakan kekayaan negara yang dipisahkan maupun dari
Anggaran Pendapatan danBelanja Negara (APBN). Berdasarkan Undang-Undang Nomor 9
Tahun 1969 Tentang Perusahaan Negara terdiri dari Perusahaan Jawatan
(Departemental Agency), Perusahaan Umum (Public Enterprises), dan Perusahaan
Perseroan (Public Company).
Perusahaan Negara lebih dikenal dengan istilah BUMN, BUMD
atau PN, yaitu suatu perusahaan yang modalnya dimiliki oleh Negara. Perusahaan
Negara ini bisa berbentuk PT, yang didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-Undang No. 19/Prp/1960. Berikut adalah perbandingan antara
PERJAN, PERUM dan PT. PERSERO:
Perusahaan Jawatan
(Departemental Enterprise) Perusahaan Jawatan adalah perusahaan yang seluruh
modalnya termasuk bagian dari anggaran belanja yang menjadi hak dari suatu
departemen;
Perusahaan Umum
(Public Enterprise) Perusahaan Umum adalah perusahaan yang seluruh modalnya
dimiliki negara dan dananya berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan;
Perusahaan
Perseroan (Public Company) Perusahaan Perseroan adalah perusahaan yang seluruh
atau sebagian modalnya berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan.
Yayasan
Bergerak di bidang sosial, keagamaan dan kemanusiaan yang
tidak mempunyai anggota;
Kekayaan Yayasan dipisahkan dengan kekayaan pendiri yayasan.
Koperasi
Beranggotakan orang-seorang atau badan hukum Koperasi dengan
melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip Koperasi sekaligus sebagai gerakan
ekonomi rakyat berdasar atas asas kekeluargaan.
Sifat keanggotaan koperasi yaitu sukarela bahwa tidak ada
paksaan untuk menjadi anggota koperasi dan terbuka bahwa tidak ada pengecualian
untuk menjadi anggota koperasi.
2. Badan
Usaha Bukan Berbentuk Badan Hukum
Lain halnya dengan badan usaha yang bukan berbentuk badan
hukum, pada bentuk badan usaha ini, tidak terdapat pemisahan antara kekayaan
badan usaha dengan kekayaan pemiliknya. Badan Usaha bukan berbentuk Badan Hukum
adalah, dimana :
Subjek hukumnya
adalah orang-orang yang menjadi pengurusnya, jadi bukan badan hukum itu sendiri
karena ia bukanlah hukum sehingga tidak dapat menjadi subjek hukum.
Harta perusahan
bersatu dengan harta pribadi para pengurus/anggotanya. Akibatnya kalau
perusahaannya pailit, maka harta pengurus/anggotanya ikut tersita juga.
Badan usaha
bukan berbentuk badan hukum terdiri dari :
Persekutuan Perdata (Maatschap)
Persekutuan Perdata diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata (KUH Perdata) Pasal 1618-1682. Menurut pasal 1618 KUH Perdata,
Persekutuan Perdata merupakan “suatu perjanjian di mana dua orang atau lebih
mengikatkan diri untuk memasukkan sesuatu ke dalam persekutuan dengan maksud
untuk membagi keuntungan yang terjadi karenanya”. Para sekutu bertanggung jawab
secara pribadi atas Persekutuan Perdata.
Menurut Pasal 1619 KUH Perdata yg berbunyi, “Semua perseroan
perdata harus ditunjukan pada sesuatu yang halal dan diadakan untuk kepentingan
bersama para anggotanya". Masing-masing anggota wajib memasukkan uang,
barang atau usaha ke dalam perseroan itu.” Menurut pasal tersebut syarat
Persekutuan Perdata adalah adanya pemasukan sesuatu ke dalam persekutuan
(inbreng), dan ada pula pembagian keuntungan dari hasil pemasukan tersebut.
Suatu Persekutuan Perdata dibuat berdasarkan perjanjian oleh para pihak yang
mendirikannya.
Dalam perjanjian itu para pihak berjanji memasukan sesuatu
(modal) kedalam persekutuan, dan hasil dari usaha yang dijalankan (keuntungan)
kemudian dibagi diantara para pihak sesuai perjanjian. Perjanjian Persekutuan
Perdata dapat dibuat secara sederhana, tidak memerlukan proses dan tata cara
yang rumit serta dapat dibuat berdasarkan akta dibawah tangan – perjanjian
Persekutuan Perdata bahkan dapat dibuat secara lisan.
Unsur-unsur Maatschap adalah :
·
Dasar pembentukannya adalah perjanjian timbal
balik.
·
Adanya inbreng (Pasal 1619 (2) KUHPerdata)
artinya masing-masing sekutu diwajibkan memasukan uang, barang-barang dan
lainnya ataupun kerajinannya ke dalam persoalan itu. Wujud dari inbreng, dapat
berupa :
1.
Uang,
2.
Barang (benda-benda lain apa saja yang layak
bagi pemasukan) Tenaga (baik tenaga fisik maupun pikiran).
·
Dengan tujuan membagi keuntungan di antara
orang-orang yang terlibat.
Adapun cara mendirikan Maatschap (Persekutuan Perdata)
menurut Pasal 1618 KUHPPerdata, persekutuan perdata didirikan atas dasar
perjanjian dan tidak diharuskan secara tertulis sehingga perjanjiannya bersifat
konsensual. Perjanjian mulai berlaku sejak saat perjanjian itu menjadi sempurna
atau sejak saat yang ditentukan dalam perjanjian (Pasal 1624 KUHPerdata).
Syarat-syarat mendirkan Persekutuan Perdata yang harus
dilakukan dalam hal pendirian persekutuan perdata yaitu :
1.
Perjanjian untuk mendirikan persekutuan perdata
harus memenuhi Pasal 1320 KUHPerdata.
2.
Tidak dilarang oleh hukum.
3.
Tidak bertentangan dengan kesusilaan dan
ketertiban umum .
4.
Harus merupakan kepentingan bersama yang dikejar
(keuntungan).
Berakhirnya suatu persekutuan perdata disebabkan oleh :
1.
Lampaunya waktu yang telah diperjanjikan,
2.
Pengakhiran oleh salah satu atau beberapa
sekutu,
3.
Musnahnya benda yang menjadi objek persekutuan
dan selesainya perbuatan yang menjadi pokok persekutuan,
4.
Kematian salah satu sekutu, adanya pengampuan
atau dinyatakan kepailitan terhadap salah satu sekutu,
5.
Pengakhiran berdasarkan alasan yang sah,
6.
Selelainya perbuatan, dan
7.
Adanya pengampuan atau kepailitan terhadap salah
satu sekutu.
Mengenain berakhirnya persekutuan perdata diatur di dalam
Pasal 1646-1652 KUHPerdata.
Firma (Fa)
Persekutuan firma adalah perserikatan yang diadakan untuk
menjalankan suatu perusahaan dengan memakai nama bersama (Pasal 16 KUHD). Para
anggota memiliki tanggung jawab renteng terhadap Firma.Karena firma merupakan
bagian dari perkumpulan maka memiliki unsur-unsur sebagai berikut:
1.
Kepentingan bersama,
2.
Kehendak bersama,
3.
Tujuan bersama, dan
4.
Kerja sama.
Sedangkan unsur yang dimiliki firma merupakan bagian dari
perikatan perdata yaitu:
1.
Perjanjian timbal balik,
2.
Inbreng, dan
3.
Pembagian keuntungan
Persekutuan Firma merupakan bagian dari persekutuan perdata,
maka dasar hukum persekutuan firma terdapat pada Pasal 16 sampai dengan Pasal
35 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD) dan Pasal-Pasal lainnya dalam Kitab
Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) yang terkait.
Berdasarkan Pasal 16 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang, Firma
(dari bahasa Belanda venootschap onder firma; secara harfiah: “perserikatan
dagang antara beberapa perusahaan) atau sering juga disebut Fa, adalah sebuah
bentuk persekutuan untuk menjalankan usaha antara dua orang atau lebih dengan
memakai nama bersama”.
Menurut pendapat lain, Persekutuan Firma adalah “setiap
perusahaan yang didirikan untuk menjalankan suatu perusahaan di bawah nama
bersama atau Firma sebagai nama yang dipakai untuk berdagang bersama-sama”.
Ciri dan sifat firma adalah :
·
Apabila terdapat hutang tak terbayar, maka
setiap pemilik wajib melunasi dengan harta pribadi.
·
Setiap anggota firma memiliki hak untuk menjadi
pemimpin.
·
Seorang anggota tidak berhak memasukkan anggota
baru tanpa seizin anggota yang lainnya.
·
Keanggotaan firma melekat dan berlaku seumur
hidup.
·
Seorang anggota mempunyai hak untuk membubarkan
firma.
·
Pendiriannya tidak memelukan akte pendirian.
·
Mudah memperoleh kredit usaha
Pada persekutuan dengan firma terdapat beberapa kebaikan dan
keburukan yaitu :
·
Kebaikan
Firma (Fa)
1.
Kebutuhan akan modal lebih modal mudah terpenuhi
jika dibandingkan dengan prusahaan perseorangan, sehingga modal dalam firma
lebih besar.
2.
Tergabungnya alasan-alasan rasional karena
sebagian besar tindakan yang didasarkan oleh musyawarah menghasilkan kebenaran
dan mendatangkan keuntungan.
3.
Perhatian sekutu yang sungguh-sungguh pada
perusahaan dimana setiap sekutu persekutuan dengan firma bertanggung jawab
tidak hanya pada tindakan-tindakannya sendiri tetapi juga pada tindakan dari
sekutu lain.
·
Keburukan
Firma (Fa)
1.
Tanggung jawab yang tidak terbatas dari sekutu
dalam hal terjadi kerugian pada persekutuan dengan firma, artinya pada persekutuan
dengan firma pemisahan kekayaan pribadi dengan perusahaan tidak ada artinya,
sebab bila kekayaan perusahaan tidak dapt memenuhi pembayaran utang-utang
persekutuan maka kekayaan pribadi pada sekutu menjadi jaminan, dengan kata lain
setiap sekutu bertanggung jawab sepenuhnya.
2.
Pimpinan dipagang oleh lebih dari satu orang,
hal ini dapat mengakibatkan perselisihan paham dalam hal kerja sama dan
pelaksanaan masing-masing tugas sekutu.
3.
Adanya beberapa sebab persekutuan dengan firma
akan berakhir.
4.
Penanaman modal beku (frozen capital). Bagi
orang yang menginventasikan modal pada persekutuan dengan firma bila dilihat
dari sudut liquiditas merupakan tempat penanaman modal yang kurang baik.,
karena mudah dalam hal inventasi tetapi agak sulit dalam hal menarik kembali
modal yang telah disetor ke persekutuan dengan firma (tidak bisa setiap waktu).
Proses pembentukan firma bahwa tiap-tiap pesero/sekutu
secara tanggung menanggung bertanggung jawab untuk seluruhnya atas segala
perikatan dari Firma (Pasal 18 KUHD). Dalam Pasal 22 KUHD disebutkan bahwa
persekutuan firma harus didirikan dengan akta otentik tanpa adanya kemungkinan
untuk disangkalkan kepada pihak ketiga bila akta itu tidak ada. Pembentukan
Firma harus dilakukan secara autentik dengan cara membuat suatu perjanjian
secara tertulis yang menunjukkan kesepakatan di antara pendirinya untuk
mendirikan suatu badan usaha yang berbentuk firma. Perjanjian inilah yang
disebut dengan Akta Pendirian Firma.
Cara/langkah-langkah mendirikan Firma adalah sebagai
berikut:
·
Para pihak yang berkehendak mendirikan Firma
menyiapkan akta yang didalamnya minimal memuat (Pasal 26 KUHD) :
1.
Nama lengkap, pekerjaan, dan tempat tinggal para
pendiri Firma; Nama Firma yang akan didirikan (termasuk juga tempat kedudukan
Firma);
2.
Keterangan kegiatan usaha yang akan dilakukan
Firma di kemudian hari;
3.
Nama Sekutu yang tidak berkuasa untuk
menandatangani perjanjian atas nama Firma;
4.
Saat mulai dan berakhirnya Firma; dan
5.
Klausula-klausula yang berkaitan dengan hubungan
antara pihak ketiga dengan Firma.
·
Akta tersebut dibuat sebagai akta otentik yang
dibuat di hadapan notaris (Pasal 22 KUHD),
·
Akta otentik tersebut selanjutnya didaftarkan
pada register Kepaniteraan Pengadilan Negeri dimana Firma berkedudukan (Pasal
23 KUHD),
·
Akta yang telah didaftarkan ke Pengadilan Negeri
selanjutnya diumumkan dalam Berita Negara.
Proses pendaftaran Firma (Fa) dalam Pasal 23 KUHD
menyebutkan "setelah akta pendirian dibuat, maka harus didaftarkan di
Kepaniteraan Pengadilan Negeri dalam wilayah mana firma tersebut
didirikan". Hal-hal yang perlu didaftarkan adalah:
·
Akta pendirian, atau
·
Ikhtisar resmi dari akta pendirian tersebut
(Pasal 26 KUHD), yang isinya antara lain:
1.
Nama, nama kecil, pekerjaan dan tempat tinggal
para sekutu firma.
2.
Pernyataan firmanya dengan menunjukan apakah
persekutuan itu umum ataukah terbatas pada suatu cabang khusus perusahaan
tertentu dan dalam hal terakhir dengan menunjukan cabang khusus itu.
3.
Penunjukan para sekutu yang tidak diperkenankan
bertanda tangan atas nama firma.
4.
Saat mulai berlakunya persekutuan dan saat
berakhirnya.
5.
Dan selanjutnya, pada umumnya bagian-bagian dari
perjanjiannya yang harus dipakai untuk menentukan hak-hak pihak ketiga terhadap
para sekutu.
Selanjutnya ikhtisar resmi dari akta pendirian tersebut
harus diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia (Pasal 28 KUHD). Selama
akta pendirian belum didaftarkan dan diumumkan, maka pihak ketiga menganggap
firma sebagai persekutuan umum yang menjalankan segala macam usaha, didirikan
untuk jangka waktu yang tidak terbatas serta semua sekutu berwenang
menandatangani berbagai surat untuk firma ini (Pasal 29 KUHD).
Pada umumnya Persekutuan Firma disebut juga sebagai
perusahaan yang tidak berbadan hukum karena firma telah memenuhi syarat/unsur
materiil namun syarat/unsur formalnya berupa pengesahan atau pengakuan dari
Negara berupa peraturan perundang-undangan belum ada. Hal inilah yang
menyebabkan Persekutuan Firma bukan merupakan persekutuan yang berbadan hukum.
Proses pembubaran Persekutuan Firma diatur dalam ketentuan
Pasal 1646 sampai dengan Pasal 1652 KUHPerdata dan Pasal 31 sampai dengan Pasal
35 KUHD. Pasal 1646 KUHPerdata menyebutkan bahwa ada 5 hal yang menyebabkan
Persekutuan Firma berakhir, yaitu :
1.
Jangka waktu firma telah berakhir sesuai yang
telah ditentukan dalam akta pendirian;
2.
Adanya pengunduran diri dari sekutunya atau
pemberhentian sekutunya;
3.
Musnahnya barang atau telah selesainya usaha
yang dijalankan persekutuan firma;
4.
Adanya kehendak dari seorang atau beberapa orang
sekutu; dan
5.
Salah seorang sekutu meninggal dunia atau berada
di bawah pengampuan atau dinyatakan pailit.
Dalam Persekutuan Firma hanya terdapat satu macam sekutu,
yaitu sekutu komplementer atau Firma. Sekutu komplementer menjalankan
perusahaan dan mengadakan hubungan hukum dengan pihak ketiga sehingga
bertanggung jawab pribadi untuk keseluruhan.
Pasal 17 KUHD menyebutkan bahwa dalam anggaran dasar harus
ditegaskan apakah di antara para sekutu ada yang tidak diperkenankan bertindak
keluar untuk mengadakan hubungan hukum dengan pihak ketiga. Meskipun sekutu
kerja tersebut dikeluarkan wewenangnya atau tidak diberi wewenang untuk
mengadakan hubungan hukum dengan pihak ketiga, namun hal ini tidak
menghilangkan sifat tanggung jawab pribadi untuk keseluruhan, sebagaimana
diatur dalam Pasal 18 KUHD.
Perihal pembagian keuntungan dan kerugian dalam persekutuan
Firma diatur dalam Pasal 1633 sampai dengan Pasal 1635 KUHPerdata yang mengatur
cara pembagian keuntungan dan kerugian yang diperjanjikan dan yang tidak
diperjanjikan diantara pada sekutu.
Bunyi Pasal 1633 KUHPerdata tersebut adalah : “Jika dalam
perjanjian perseroan tidak ditetapkan bagian masing-masing peserta dari
keuntungan dan kerugian perseroan, maka bagian tiap peserta itu dihitung
menurut perbandingan besarnya sumbangan modal yang dimasukkan oleh
masing-masing. Bagi peserta yang kegiatannya saja yang dimasukkan ke dalam
perseroan, bagiannya dalam laba dan rugi harus dihitung sama banyak dengan
bagian peserta yang memasukkan uang atau barang paling sedikit”.
Dalam Pasal 1634 KUHPerdata dinyatakan : “Para peserta tidak
boleh berjanji, bahwa jumlah bagian mereka masing-masing dalam perseroan dapat
ditetapkan oleh salah seorang dari mereka atau orang lain". Perjanjian
demikian harus dianggap dari semula sebagai tidak tertulis dan dalam hal ini
harus diperhatikan ketentuan-ketentuan Pasal 1633”.
Dan dalam Pasal 1635 dinyatakan : “Perjanjian yang
memberikan keuntungan saja kepada salah seorang daripada peserta adalah batal.
Akan tetapi diperbolehkan diperjanjikan bahwa semua kerugian hanya akan
ditanggung oleh salah seorang peserta atau lebih”.
Dalam hal cara pembagian keuntungan dan kerugian
diperjanjikan oleh sekutu, sebaiknya pembagian tersebut diatur di dalam
perjanjian pendirian persekutuan. Dengan batasan ketentuan tersebut tidak boleh
memberikan seluruh keuntungan hanya kepada salah seorang sekutu saja dan boleh
diperjanjikan jika seluruh kerugian hanya ditanggung oleh salah satu sekutu
saja. Penetapan pembagian keuntungan oleh pihak ketiga tidak diperbolehkan.
Apabila cara pembagian keuntungan dan kerugian tidak
diperjanjikan, maka pembagian didasarkan pada perimbangan pemasukan secara adil
dan seimbang dan sekutu yang memasukkan berupa tenaga kerja hanya dipersamakan
dengan sekutu yang memasukkan uang atau benda yang paling sedikit.
Persekutuan Komanditer (“CV”)
Dalam Pasal 19 Kitab Undang-undang Hukum Dagang (KUHD),
bahwa CV(Comanditaire Venootschaaf) adalah "perseroan yang terbentuk
dengan cara meminjamkan uang, yang didirikan oleh seseorang atau beberapa orang
persero yang bertanggung jawab secara tanggung renteng dan satu orang pesero
atau lebih yang bertindak sebagai pemberi pinjaman uang". Pada beberapa
referensi lain, pemberian pinjaman modal atau biasa disebut inbreng, dapat
berbentuk selain uang, misalnya benda atau yang lainnya.
Persekutuan Komanditer terdiri dari :
1.
Pesero Aktif, bertanggung jawab sampai dengan
harta pribadi.
2.
Pesero Pasif/komanditer, bertanggung jawab
sebesar modal yang telah disetorkan ke dalam CV.
Unsur-unsur CV sebagai perkumpulan adalah :
1.
Kepentingan bersama,
2.
Kehendak bersama,
3.
Tujuan bersama, dan
4.
Kerja sama.
Unsur-unsur CV sebagai persekutuan perdata adalah :
1.
Perjanjian timbale balik,
2.
Inbreng, dan
3.
Pembagian keuntungan.
Unsur-unsur CV sebagai Firma (Fa) adalah :
1.
Menjalankan perusahaan (pasal 16 KUHD),
2.
Dengan nama bersama atau firma ( pasal 16 KUHD),
dan
3.
Tanggung jawab sekutu (kerja) bersifat pribadi
atau keseluruhan (pasal 18 KUHD)
Unsur kekhususan persekutuan komanditer: Persekutuan
komanditer merupaka persekutuan firma dengan bentuk khusus. Bentuk khususnya
adalah adanya sekutu komanditer (dimana sekutu komanditer tidak ada dalam
persekutuan firma)
Dari pengertian di
atas, sekutu dalam persekutuan komanditer dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
·
Sekutu aktif atau sekutu Komplementer, adalah
sekutu yang menjalankan perusahaan dan berhak melakukan perjanjian dengan pihak
ketiga. Artinya, semua kebijakan perusahaan dijalankan oleh sekutu aktif.
Sekutu aktif sering juga disebut sebagai persero kuasa atau persero pengurus.
·
Sekutu Pasif atau sekutu Komanditer, adalah
sekutu yang hanya menyertakan modal dalam persekutuan. Jika perusahaan
menderita rugi, mereka hanya bertanggung jawab sebatas modal yang disertakan
dan begitu juga apabila untung, uang mereka memperoleh terbatas tergantung
modal yang mereka berikan. Status Sekutu Komanditer dapat disamakan dengan
seorang yang menitipkan modal pada suatu perusahaan, yang hanya menantikan
hasil keuntungan dari inbreng yang dimasukan itu, dan tidak ikut campur dalam
kepengurusan, pengusahaan, maupun kegiatan usaha perusahaan. Sekutu ini sering
juga disebut sebagai persero diam.
Dalam KUH Dagang tidak ada aturan tentang pendirian,
pendaftaran, maupun pengumumannya, sehingga persekutuan komanditer dapat
diadakan berdasarkan perjanjian dengan lisan atau sepakat para pihak saja
(Pasal 22 KUH Dagang). Dalam praktik di Indonesia untuk mendirikan persekutuan
komanditer dengan dibuatkan akta pendirian/berdasarkan akta notaris,
didaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan Negeri yang berwenang dan diumumkan
dalam Tambahan Berita Negara RI. Dengan kata lain prosedur pendiriannya sama
dengan prosedur mendirikan persekutuan firma. Didalam akta pendiriannya itu
harus dimuat anggaran dasar yang menentukan tentang:
1.
Nama lengkap, pekerjaan dan tempat tinggal para
pendiri.
2.
Penetapan nama persekutuan komanditer dan
kedudukan hukumnya.
3.
Keterangan mengenai CV yang menyatakan sifat CV
itu di kemudian harinya akan bersifat khusus atau terbatas untuk menjalankan
sebuah perusahaan cabang secara khusus.
4.
Nama sekutu yang tidak berkuasa menandatangani
perjanjian atas nama persekutuan.
5.
Mulai dari berakhirnya persekutuan komanditer.
6.
Klausul-klausul lain yang penting berkaitan
dengan pihak ketiga terhadap sekutu pendiri.
7.
Pendaftaran akta pendirian ke PN harus diberi
tanggal.
8.
Pembentukan kas atau uang dari CV yang khusus
disediakan bagi penagih dari pihak ketiga yang jika sudah kosong maka
berlakulah tanggung jawab pribadi untuk keseluruhan.
9.
Pengeluaran satu atau beberapa sekutu dari
wewenangnya untuk bertindak atas nama persekutuan.
10.
Maksud dan tujuan persekutuan komanditer.
11.
Modal persekutuan komanditer.
12.
Penunjukan siapa sekutu biasa dan sekutu
komanditer.
13.
Hak, kewajiban, dan tanggung jawab masing-masing
sekutu.
14.
Pembagian keuntungan dan kerugian sekutu.
Berdasarkan
perkembangannya, bentuk perseroan komanditer terbagi dalam beberapa jenis,
adalah sebagai berikut:
·
Persekutuan komanditer murni
Bentuk ini merupakan persekutuan komanditer yang pertama.
Dalam persekutuan ini hanya terdapat satu sekutu komplementer, sedangkan yang
lainnya adalah sekutu komanditer.
·
Persekutuan komanditer campuran
Bentuk ini umumnya berasal dari bentuk firma bila firma
membutuhkan tambahan modal. Sekutu firma menjadi sekutu komplementer sedangkan
sekutu lain atau sekutu tambahan menjadi sekutu komanditer.
·
Persekutuan komanditer bersaham
Persekutuan komanditer bentuk ini mengeluarkan saham yang
tidak dapat diperjualbelikan dan sekutu komplementer maupun sekutu komanditer
mengambil satu saham atau lebih. Tujuan dikeluarkannya saham ini adalah untuk
menghindari terjadinya modal beku karena dalam persekutuan komanditer tidak
mudah untuk menarik kembali modal yang telah disetorkan.
·
Pertanggung jawaban Hukum
Dalam melangsungkan kegiatan usahanya, aktivitas bisnis CV
dilakukan oleh para pesero aktifnya. Mereka-lah yang bertanggungjawab untuk
melakukan tindakan pengurusan atau bekerja di dalam perseroan tersebut. Bahkan
jika ditarik lebih jauh, para pesero komplementer ini juga dapat dimintakan
tanggung jawab secara tanggung renteng atas perikatan-perikatan perseroannya.
Di sisi lain, para pemberi modal atau pesero komanditer,
tidak bisa terlibat dalam menjalankan aktivitas perusahaan. Hal tersebut diatur
secara tegas di dalam Pasal 20 KUHD yang menjelaskan bahwa pesero komanditer
ini tidak boleh melakukan tindakan pengurusan atau bekerja dalam perusahaan
perseroan tersebut, meskipun ada pemberian kuasa sekalipun.
Implikasinya, pesero komanditer tidak perlu ikut memikul
beban kerugian yang jumlahnya lebih besar dari modal yang disetorkannya ke
perusahaan. Namun jika pesero komanditer terbukti ikut menjalankan perusahaan
sebagaimana yang dilakukan pesero komplementer dan mengakibatkan kerugian
perusahaan, maka sesuai dengan Pasal 21 KUHD, pesero komanditer ikut bertanggung
jawab secara tanggung renteng terhadap semua utang dan perikatan perseroan
tersebut.
Pada persekutuan dengan firma terdapat beberapa kebaikan dan
keburukan yaitu :
·
Kebaikan Persekutuan Komanditer, yaitu :
1.
Proses pendirianya relatif mudah;
2.
Modal yang dikumpulkan bisa lebih besar karena
didirikan banyak pihak;
3.
Mudah memperoleh kredit pinjaman; dan
4.
Ada anggota aktif yang memiliki tanggungjawab
tidak terbatas dan ada yang pasif tinggal Menunggu keuntungan.
·
Keburukan Persekutuan Komanditer, yaitu :
1.
Kelangsungan hidup perusahaan CV tidak menentu;
dan
2.
Sulit menarik kembali modal yang telah disetor.
Pada Pasal 1 (3) Undang-Undang No. 28 Tahun 2007 Tentang
Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan yang menyebutkan bahwa "Badan
sebagai subjek pajak adalah sekumpulan orang atau modal yang merupakan kesatuan
baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi
perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik
negara atau daerah dengan nama dan dalam bentuk apapun, firma, kongsi,
koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa,
organisasi sosial politik, atau organisasi yang sejenis, lembaga, bentuk usaha
tetap dan bentuk badan lainnya".
Dari definisi Badan di atas jelas bahwa persekutuan
komanditer termasuk ke dalam subjek pajak. Sehingga secara umum CV juga
berkewajiban mendaftarkan diri untuk mendapatkan NPWP atau Nomor Pokok Wajib
Pajak sebagaimana perseroan terbatas.
Karena pada hakekatnya persekutuan komanditer adalah
persekutuan perdata, maka berakhirnya persekutuan komanditer adalah sama dengan
persekutuan perdata yang diatur dalam Pasal 1646 sampai dengan 1652 KUHPerdata.
Pasal 1646 KUH Perdata menyebutkan bahwa paling tidak ada 4
hal yang menyebabkan persekutuan berakhir yaitu :
1.
Lewatnya masa waktu perjanjian persekutuan;
2.
Musnahnya barang atau diselesaikannya perbuatan
yang menjadi pokok persekutuan;
3.
Kehendak dari sekutu, dan
4.
Jika salah seorang sekutu meninggal atau ditaruh
di bawah pengampuan atau dinyatakan pailit.
Berakhirnya CV,juga diatur dalam Pasal 31 KUHD yaitu :
1.
Berakhirnya jangka waktu yang ditetapkan dalam
Anggaran Dasar (Akta Pendirian);
2.
CV berakhir sebelum jangka waktu yang
ditetapkan, akibat pengunduran diri atau pemberhentian sekutu;
3.
Akibat perubahan anggaran dasar (akta pendirian)
di mana perubahan anggaran dasar ini mempengaruhi kepentingan pihak ketiga
terhadap CV.
Dasar Hukum :
1.
Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1969 Tentang
Perusahaan Negara,
2.
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No.
19/Prp/1960 Tentang Pengganti Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1969 Tentang
Perusahaan Negara,
3.
Kitab Undang-Undang Perdata (Burgerlijk Wetboek
voor Indonesie) BW
4.
Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD) atau
Wetboek van Koophandel Indonesia (WvK),
5.
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 Tentang
Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan
Hak Atas
Kekayaan Intelektual (HaKI)
Pengertian
Hak Atas Kekayaan
Intelektual adalah hak eksklusif yang diberikan suatu hukum atau peraturan
kepada seseorang atau sekelompok orang atas karya ciptanya. Menurut UU yang
telah disahkan oleh DPR-RI pada tanggal 21 Maret 1997, HaKI adalah hak-hak
secara hukum yang berhubungan dengan permasalahan hasil penemuan dan
kreativitas seseorang atau beberapa orang yang berhubungan dengan perlindungan
permasalahan reputasi dalam bidang komersial (commercial reputation) dan
tindakan / jasa dalam bidang komersial (goodwill).
Dengan begitu
obyek utama dari HaKI adalah karya, ciptaan, hasil buah pikiran, atau
intelektualita manusia. Kata “intelektual” tercermin bahwa obyek kekayaan
intelektual tersebut adalah kecerdasan, daya pikir, atau produk pemikiran
manusia (the Creations of the Human Mind) (WIPO, 1988:3). Setiap manusia
memiliki memiliki hak untuk melindungi atas karya hasil cipta, rasa dan karsa
setiap individu maupun kelompok.
Kita perlu
memahami HaKI untuk menimbulkan kesadaran akan pentingnya daya kreasi dan
inovasi intelektual sebagai kemampuan yang perlu diraih oleh setiap manusia,
siapa saja yang ingin maju sebagai faktor pembentuk kemampuan daya saing dalam
penciptaan Inovasi-inovasi yang kreatif.
Prinsip-prinsip Hak Kekayaan Intelektual
Prinsip-prinsip
Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) adalah sebagai berikut :
- Prinsip Ekonomi
Dalam prinsip
ekonomi, hak intelektual berasal dari kegiatan kreatif dari daya pikir manusia
yang memiliki manfaat serta nilai ekonomi yang akan member keuntungan kepada
pemilik hak cipta.
- Prinsip Keadilan
Prinsip keadilan
merupakan suatu perlindungan hukum bagi pemilik suatu hasil dari
kemampuan intelektual, sehingga memiliki kekuasaan dalam penggunaan hak atas
kekayaan intelektual terhadap karyanya.
- Prinsip Kebudayaan
Prinsip
kebudayaan merupakan pengembangan dari ilmu pengetahuan, sastra dan seni guna
meningkatkan taraf kehidupan serta akan memberikan keuntungan bagi masyarakat,
bangsa dan Negara.
- Prinsip Sosial
Prinsip sosial
mengatur kepentingan manusia sebagai warga Negara, sehingga hak yang telah
diberikan oleh hukum atas suatu karya merupakan satu kesatuan yang diberikan
perlindungan berdasarkan keseimbangan antara kepentingan individu dan
masyarakat/ lingkungan.
Dasar Hukum Hak Kekayaan Intelektual di
Indonesia
Dalam penetapan
HaKI tentu berdasarkan hukum-hukum yang sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Dasar-dasar hukum tersebut antara lain adalah :
- Undang-undang Nomor 7/1994 tentang Pengesahan Agreement Establishing the World Trade Organization (WTO)
- Undang-undang Nomor 10/1995 tentang Kepabeanan
- Undang-undang Nomor 12/1997 tentang Hak Cipta
- Undang-undang Nomor 14/1997 tentang Merek
- Undang-undang Nomor 13/1997 tentang Hak Paten
- Keputusan Presiden RI No. 15/1997 tentang Pengesahan Paris Convention for the Protection of Industrial Property dan Convention Establishing the World Intellectual Property Organization
- Keputusan Presiden RI No. 17/1997 tentang Pengesahan Trademark Law Treaty
- Keputusan Presiden RI No. 18/1997 tentang Pengesahan Berne Convention for the Protection of Literary and Artistic Works
- Keputusan Presiden RI No. 19/1997 tentang Pengesahan WIPO Copyrights Treaty
Berdasarkan
peraturan-peraturan tersebut maka Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) dapat
dilaksanakan. Maka setiap individu/kelompok/organisasi yang memiliki hak atas
pemikiran-pemikiran kreatif mereka atas suatu karya atau produk dapat diperoleh
dengan mendaftarkannya ke pihak yang melaksanakan, dalam hal ini merupakan
tugas dari Direktorat Jenderal Hak-hak Atas Kekayaan Intelektual,
Departemen Hukum dan Perundang-undangan Republik Indonesia.
Klasifikasi Hak Atas Kekayaan Intelektual
(HaKI)
Secara umum Hak
atas Kekayaan Intelektual (HaKI) terbagi dalam dua kategori, yaitu :
- Hak Cipta
- Hak Kekayaan Industri, yang meliputi :
- Hak Paten
- Hak Merek
- Hak Desain Industri
- Hak Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu
- Hak Rahasia Dagang
- Hak Indikasi
Dalam tulisan
ini, penulis hanya akan membahas Hak Cipta, Hak Paten, dan Hak Merek.
- Hak Cipta
Hak Cipta adalah
Hak khusus bagi pencipta untuk mengumumkan ciptaannya atau memperbanyak
ciptaannya. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 19/2002 Pasal 1 ayat 1 mengenai Hak
Cipta :
Hak Cipta adalah
hak eksklusif bagi Pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak
Ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi
pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hak
cipta termasuk kedalam benda immateriil, yang dimaksud dengan hak milik immateriil
adalah hak milik yang objek haknya adalah benda tidak berwujud (benda tidak
bertubuh). Sehingga dalam hal ini bukan fisik suatu benda atau barang yang di
hak ciptakan, namun apa yang terkandung di dalamnya yang memiliki hak cipta.
Contoh dari hak cipta tersebut adalah hak cipta dalam penerbitan buku berjudul
“Manusia Setengah Salmon”. Dalam hak cipta, bukan bukunya yang diberikan hak
cipta, namun Judul serta isi didalam buku tersebutlah yang di hak ciptakan oleh
penulis maupun penerbit buku tersebut. Dengan begitu yang menjadi objek dalam
hak cipta merupakan ciptaan sang pencipta yaitu setiap hasil karya dalam bentuk
yang khas dan menunjukkan keasliannya dalam ilmu pengetahuan, seni dan sastra.
Dasar hukum Undang-undang yang mengatur hak cipta antara lain :
- UU Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta
- UU Nomor 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta (Lembaran Negara RI Tahun 1982 Nomor 15)
- UU Nomor 7 Tahun 1987 tentang Perubahan atas UU Nomor 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta (Lembaran Negara RI Tahun 1987 Nomor 42)
- UU Nomor 12 Tahun 1997 tentang Perubahan atas UU Nomor 6 Tahun 1982 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 7 Tahun 1987 (Lembaran Negara RI Tahun 1997 Nomor 29)
- Hak Kekayaan Industri
Hak kekayaan
industri adalah hak yang mengatur segala sesuatu milik perindustrian, terutama
yang mengatur perlindungan hukum. Hak kekayaan industri sangat penting untuk
didaftarkan oleh perusahaan-perusahaan karena hal ini sangat berguna untuk
melindungi kegiatan industri perusahaan dari hal-hal yang sifatnya menghancurkan
seperti plagiatisme. Dengan di legalkan suatu industri dengan produk yang
dihasilkan dengan begitu industri lain tidak bisa semudahnya untuk membuat
produk yang sejenis/ benar-benar mirip dengan mudah. Dalam hak kekayaan
industri salah satunya meliputi hak paten dan hak merek.
1. Hak Paten
Menurut
Undang-undang Nomor 14/2001 pasal 1 ayat 1, Hak Paten adalah hak eksklusif yang
diberikan oleh Negara kepada Inventor atas hasil penemuannya di bidang
teknologi, yang untuk selama waktu tertentu dalam melaksanakan sendiri
penemuannya tersebut atau dengan membuat persetujuan kepada pihak lain untuk
melaksanakannya. Paten hanya diberikan negara kepada penemu yang telah
menemukan suatu penemuan (baru) di bidang teknologi. Yang dimaksud dengan penemuan
adalah kegiatan pemecahan masalah tertentu di bidang teknologi, hal yang
dimaksud berupa proses, hasil produksi, penyempurnaan dan pengembangan proses,
serta penyempurnaan dan pengembangan hasil produksi.
Perlindungan hak
paten dapat diberikan untuk jangka waktu 20 tahun terhitung dari filling
date. Undang-undang yang mengatur hak paten antara lain :
- UU Nomor 6 Tahun 1989 tentang Paten (Lembaran Negara RI Tahun 1989 Nomor 39)
- UU Nomor 13 Tahun 1997 tentang Perubahan UU Nomor 6 Tahun 1989 tentang Paten (Lembaran Negara RI Tahun 1997 Nomor 30)
- UU Nomor 14 Tahun 2001 tentang Paten (Lembaran Negara RI Tahun 2001 Nomor 109).
2. Hak Merek
Berdasarkan
Undang-undang Nomor 15/2001 pasal 1 ayat 1, hak merek adalah tanda yang
berupa gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka-angka, susunan warna, atau
kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan
dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa. Merek merupakan tanda yang
digunakan untuk membedakan produk/jasa tertentu dengan produk/jasa yang sejenis
sehingga memiliki nilai jual dari pemberian merek tersebut. Dengan adanya
pembeda dalam setiap produk/jasa sejenis yang ditawarkan, maka para costumer
tentu dapat memilih produk.jasa merek apa yang akan digunakan sesuai dengan
kualitas dari masing-masing produk/jasa tersebut. Merek memiliki beberapa
istilah, antara lain :
- Merek Dagang
Merek dagang
adalah merek yang digunakan pada barang yang diperdagangkan oleh seseorang atau
beberapa orang secara bersama-sama atau badan hukum untuk membedakan dengan
barang-barang sejenis lainnya.
- Merek Jasa
Merek jasa adalah
merek yang digunakan pada jasa yang diperdagangkan oleh seseorang atau beberapa
orang secara bersama-sama atau badan hukum untuk membedakan dengan jasa-jasa
sejenis lainnya.
- Merek Kolektif
Merek Kolektif
adalah merek yang digunakan pada barang atau jasa dengan karakteristik yang
sama yang diperdagangkan oleh beberapa orang atau badan hukum secara
bersama-sama untuk membedakan dengan barang atau jasa sejenis lainnya.
Selain itu
terdapat pula hak atas merek, yaitu hak khusus yang diberikan negara
kepada pemilik merek yang terdaftar dalam Daftar Umum Merek untuk jangka waktu
tertentu, menggunakan sendiri merek tersebut atau memberi izin kepada seseorang
atau beberapa orang secara bersama-sama atau badan hukum untuk menggunakannya.
Dengan terdaftarnya suatu merek, maka sudah dipatenkan bahwa nama merek yang
sama dari produk/jasa lain tidak dapat digunakan dan harus mengganti nama
mereknya. Bagi pelanggaran pasal 1 tersebut, maka pemilik merek dapat
mengajukan gugatan kepada pelanggar melalui Badan Hukum atas penggunaan nama
merek yang memiliki kesamaan tanpa izin, gugatan dapat berupa ganti rugi dan
penghentian pemakaian nama tersebut.
Selain itu
pelanggaran juga dapat berujung pada pidana yang tertuang pada bab V pasal 12,
yaitu setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menggunakan merek yang
sama secara keseluruhan dengan merek terdaftar milik orang lain atau badan
hukum lain, untuk barang atau jasa sejenis yang diproduksi dan diperdagangkan,
dipidana penjara paling lama tujuh tahun dan denda paling banyak
Rp100.000.000,-
Oleh karena itu,
ada baiknya jika merek suatu barang/jasa untuk di hak patenkan sehingga pemilik
ide atau pemikiran inovasi mengenai suatu hasil penentuan dan kreatifitas dalam
pemberian nama merek suatu produk/jasa untuk dihargai dengan semestinya dengan
memberikan hak merek kepada pemilik baik individu maupun kelompok organisasi
(perusahaan/industri) agar dapat tetap melaksanakan kegiatan-kegiatan
perekonomiannya dengan tanpa ada rasa was-was terhadap pencurian nama merek
dagang/jasa tersebut.
Undang-undang
yang mengatur mengenai hak merek antara lain :
- UU Nomor 19 Tahun 1992 tentang Merek (Lembaran Negara RI Tahun 1992 Nomor 81)
- UU Nomor 14 Tahun 1997 tentang Perubahan UU Nomor 19 Tahun 1992 tentang Merek (Lembaran Negara RI Tahun 1997 Nomor 31)
- UU Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek (Lembaran Negara RI Tahun 2001 Nomor 110)
Dalam pembahasan
ini, dapat disimpulkan bahwa HaKI adalah bagian penting dalam penghargaan dalam
suatu karya dalam ilmu pengetahuan, sastra maupun seni dengan menghargai hasil
karya pencipta inovasi-inovasi tersebut agar dapat diterima dan tidak dijadikan
suatu hal untuk menjatuhkan hasil karya seseorang serta berguna dalam
pembentukan citra dalam suatu perusahaan atau industri dalam melaksanakan
kegiatan perekonomian.
Perlindungan Konsumen
Pengertian Perlindungan Konsumen Indonesia adalah -
Nomor 8 Tahun 1999 pasal 1 angka 1 yang berbunyi “Perlindungan Konsumen adalah
segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberi perlindungan
kepada Konsumen.” Rumusan pengertian perlindungan Konsumen yang terdapat dalam
pasal tersebut, cukup memadai. Kalimat yang menyatakan “segala upaya yang
menjamin adanya kepastian hukum”, diharapkan sebagai benteng untuk meniadakan
tindakan sewenang-wenang yang merugikan pelaku usaha hanya demi untuk
kepentingan perlindungan Konsumen, begitu pula sebaliknya menjamin kepastian
hukum bagi konsumen.
Definisi perlindungan Konsumen terdapat pada Undang-Undang Republik
Pengertian Perlindungan Konsumen di kemukakan oleh berbagai
sarjana hukum salah satunya Az. Nasution, Az. Nasution mendefinisikan
Perlindungan Konsumen adalah bagian dari hukum yang memuat asas-asas atau
kaidah-kaidah yang bersifat mengatur dan juga mengandung sifat yang melindungi
kepentingan Konsumen. Adapun hukum Konsumen diartikan sebagai keseluruhan
asas-asas dan kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan dan masalah antara
berbagai pihak satu sama lain yang berkaitan dengan barang dan/atau jasa Konsumen
dalam pergaulan hidup.
Setiap orang, pada suatu waktu, dalam posisi tunggal/sendiri
maupun berkelompok bersama orang lain, dalam keadaan apapun pasti menjadi
Konsumen untuk suatu produk barang atau jasa tertentu. Keadaan universal ini
pada beberapa sisi menunjukkan adanya kelemahan, pada Konsumen sehingga
Konsumen tidak mempunyai kedudukan yang “aman”. Oleh karena itu secara mendasar
Konsumen juga membutuhkan perlindungan hukum yang sifatnya universal juga.
Mengingat lemahnya kedudukan Konsumen pada umumnya dibandingkan dengan
kedudukan produsen yang relatif lebih kuat dalam banyak hal misalnya dari segi
ekonomi maupun pengetahuan mengingat produsen lah yang memperoduksi barang
sedangkan konsumen hanya membeli produk yang telah tersedia dipasaran, maka
pembahasan perlindungan Konsumen akan selalu terasa aktual dan selalu penting
untuk dikaji ulang serta masalah perlindungan konsumen ini terjadi di dalam
kehidupan sehari-hari.
Perlindugan terhadap Konsumen dipandang secara materiil maupun
formiil makin terasa sangat penting, mengingat makin lajunnya ilmu pengetahuan
dan teknologi yang merupakan motor penggerak bagi produktifitas dan efisiensi
produsen atas barang atau jasa yang dihasilkannya dalam rangka mencapai sasaran
usaha. Dalam rangka mengejar dan mencapai kedua hal tersebut, akhirnya baik
langsung atau tidak langsung, maka Konsumenlah yang pada umumnya
merasakan dampaknya.
Dengan demikian upaya-upaya untuk memberikan perlindungan yang memadai terhadap kepentingan Konsumen merupakan suatu hal yang penting dan mendesak, untuk segera dicari solusinya, terutama di Indonesia, mengingat sedemikian kompleksnya permasalahan yang menyangkut perlindungan Konsumen, lebih-lebih menyongsong era perdagangan bebas yang akan datang guna melindungi hak-hak konsumen yang sering diabaikan produsen yang hanya memikirkan keuntungan semata dan tidak terlepas untuk melindungi produsen yang jujur.
Dengan demikian upaya-upaya untuk memberikan perlindungan yang memadai terhadap kepentingan Konsumen merupakan suatu hal yang penting dan mendesak, untuk segera dicari solusinya, terutama di Indonesia, mengingat sedemikian kompleksnya permasalahan yang menyangkut perlindungan Konsumen, lebih-lebih menyongsong era perdagangan bebas yang akan datang guna melindungi hak-hak konsumen yang sering diabaikan produsen yang hanya memikirkan keuntungan semata dan tidak terlepas untuk melindungi produsen yang jujur.
Pada era perdagangan bebas dimana arus barang dan jasa dapat masuk
kesemua negara dengan bebas, maka yang seharusnya terjadi adalah persaingan
yang jujur. Persaingan yang jujur adalah suatu persaingan dimana Konsumen dapat
memilih barang atau jasa karena jaminan kulitas dengan harga yang wajar. Oleh
karena itu pola perlindungan Konsumen perlu diarahkan pada pola kerjasama antar
negara, antara semua pihak yang berkepentingan agar terciptanya suatu model
perlindungan yang harmonis berdasarkan atas persaingan jujur, hal ini sangat
penting tidak hanya bagi konsumen tetapi bagi produsen sendiri diantara
keduanya dapat memperoleh keuntungan dengan kesetaraan posisi antara produsen
dan konsumen, perlindungan terhadap konsumen sangat menjadi hal yang sangat
penting di berbagai negara bahkan negara maju misalnya Amerika Serikat yang
tercatat sebagai negara yang banyak memberikan sumbangan dalam masalah
perlindungan konsumen.
Hakekatnya, terdapat dua instrumen hukum penting yang menjadi
landasan kebijakan perlindungan Konsumen di Indonesia, yakni:Pertama,
Undang-Undang Dasar 1945, sebagai sumber dari segala sumber hukum di Indonesia,
mengamanatkan bahwa pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan masyarakat
adil dan makmur. Tujuan pembangunan nasional diwujudkan melalui sistem
pembangunan ekonomi yang demokratis sehingga mampu menumbuhkan dan
mengembangkan dunia yang memproduksi barang dan jasa yang layak dikonsumsi oleh
masyarakat. Kedua, Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
(UUPK).
Lahirnya Undang-undang ini memberikan harapan bagi masyarakat Indonesia, untuk memperoleh perlindungan atas kerugian yang diderita atas transaksi suatu barang dan jasa. UUPK menjamin adanya kepastian hukum bagi Konsumen dan tentunya perlindungan Konsumen tersebut tidak pula merugikan Produsen, namun karena kedudukan konsumen yang lemah maka Pemerintah berupaya untuk memberikan perlindungan melalui peraturan perundang-undanganan yang berlaku, dan Pemerintah juga melakukan pengawasan terhadap dilaksanakannya peraturan perundang-undangan tersebut oleh berbagai pihak yang terkait.
Lahirnya Undang-undang ini memberikan harapan bagi masyarakat Indonesia, untuk memperoleh perlindungan atas kerugian yang diderita atas transaksi suatu barang dan jasa. UUPK menjamin adanya kepastian hukum bagi Konsumen dan tentunya perlindungan Konsumen tersebut tidak pula merugikan Produsen, namun karena kedudukan konsumen yang lemah maka Pemerintah berupaya untuk memberikan perlindungan melalui peraturan perundang-undanganan yang berlaku, dan Pemerintah juga melakukan pengawasan terhadap dilaksanakannya peraturan perundang-undangan tersebut oleh berbagai pihak yang terkait.
Pasal 3 Undang-undang Perlindungan
Konsumen, tujuan dari Perlindungan Konsumen adalah :
- Meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemandirian Konsumen untuk melindungi diri,
- Mengangkat harkat dan martabat Konsumen dengan cara menghindarkannya dari ekses negatif pemakaian barang dan/atau jasa,
- Meningkatkan pemberdayaan Konsumen dalam memilih, menentukan dan menuntut hak-haknya sebagai Konsumen,
- Menciptakan sistem perlindungan Konsumen yang mengandung unsur kepastian hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan informasi,
- Menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan Konsumen sehingga tumbuh sikap yang jujur dan bertanggungjawab dalam berusaha,
- Meningkatkan kualitas barang dan/atau jasa yang menjamin kelangsungan usaha produksi barang dan/atau jasa, kesehatan, kenyamanan, keamanan dan keselamatan Konsumen.
Azaz Perlindungan Konsumen
Penting pula untuk mengetahui landasan
perlindungan konsumen berupa azas- azas yang terkandung dalam perlindungan
konsumen yakni :
- Asas Manfaat; mengamanatkan bahwa segala upaya dalam penyelenggaraan perlindungan Konsumen harus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kepentingan Konsumen dan pelaku usaha secara keseluruhan,
- Asas Keadilan; partisipasi seluruh rakyat dapat diwujudkan secara maksimal dan memberikan kesempatan kepada Konsumen dan pelaku usaha untuk memperoleh haknya dan melaksanakan kewajibannya secara adil,
- Asas Keseimbangan; memberikan keseimbangan antara kepentingan Konsumen, pelaku usaha, dan pemerintah dalam arti materiil ataupun spiritual,
- Asas Keamanan dan Keselamatan Konsumen; memberikan jaminan atas keamanan dan keselamatan kepada Konsumen dalarn penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang dikonsumsi atau digunakan;
- Asas Kepastian Hukum; baik pelaku usaha maupun Konsumen mentaati hukum dan memperoleh keadilan dalam penyelenggaraan perlindungan Konsumen, serta negara menjamin kepastian hukum.
ANALISIS:
Pada kesempatan ini, penulis akan membahas/menganalisa
tentang pengertian Bentuk-Bentuk Perusahaan, HAKI (Hak Atas Kekayaan
Intelektual, dan Perlindungan Konsumen.
Bentuk-Bentuk Perusahaan:
Menurut saya, pembentukan perusahaan dengan cara Holding Company
dapat meningkatkan profesionalisme usaha dari beberapa keunggulan diatas
dibandingkan dengan perusahaan mandiri. Dengan Holding Company perusahaan
daerah yang memiliki keterbatasan dan kelemahan budaya akan mampu ditingkatkan
secara profesional. Holding Company akan memberikan suatu sistem pengelolaan
perusahaan melalui manajemen yang baik serta pengendalian control yang handal.
Adanya istilah perusahaan anak yang merupakan suatu unit-unit usaha terpisah
akan mengakibatkan adanya kompetisi anatara masing-masing anak perusahaan untuk
mendapatkan penilaian kinerja yang baik dan obyektif antar perusahaan anak akan
memunculkan sikap saling berkompetisi secara sehat.
HAKI(Hak Atas Kekayaan Intelektual):
Hak khusus pemegang paten untuk
melaksanakan temuannya secara perusahaan atas patennya baik secara sendiri
maupun dengan memberikan persetujuan atau ijin atau lisensi kepada orang lain,
yaitu: membuat, menjual, menyewakan, menyerahkan, memakai, menyediakan, untuk
dijual atau disewakan atau diserahkan hasil produksi yang diberi paten. Hak ini
bersifat eksklusif, dalam arti hak yang hanya bisa dijalankan oleh orang yang
memegang hak paten, orang lain dilarang melaksanakannya tanpa persetujuan
pemegang paten.
Perlindungan Konsumen:
Hak-hak konsumen
untuk tercapainya perlindungan konsumen sudah tercantum atau dituangkan dalam
bentuk Undang-Undang, yaitu UU No 8 tahun 1999. Maka artinya hak-hak tersebut
sudah diakui keberadaannya dan memiliki kepastian hukumnya yang diatur dalam
Undang-Undang positif. Upaya hukum yang dilakukan oleh konsumen yang merasa
dirugikan bisa menggunakan pasalpasal dalam UU No 8 tahun 1999 ini. Dalam kaitannya dengan penggunaan digital signature , CA dalam kedudukan yang lebih kuat harus bisa menjamin hak-hak konsumen. Terutama dalam perjanjian adhesi antara CA dan subscriber. Perjanjian diajukan sebaiknya tidak hanya berat sebelah, sehingga subscriber tidak mempunyai posisi penawaran (bargaining power). Untuk menutup resiko atas produk-produk yang cacat CA dapat mengasuransikan resiko tersebut. Hal ini untuk mengurangi beban yang harus ditanggung oleh CA apabila suatu saat ada konsimen (subscriber) yang menuntut CA karena merasa dirugikan.
DAFTAR PUSTAKA:
0 komentar:
Posting Komentar